• Font size:
  • Decrease
  • Reset
  • Increase

Ger-geran Bahas Jokowi Teguh Yuwono Raih Gelar Doktor

SIDANG promosi doktor yang biasanya senyap, serius, dan dingin, berubah menjadi ger-geran. Pasalnya, sang promovendus, dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Diponegoro Drs Teguh Yuwono MPolAdmin tampil tangkas dan penuh canda dalam menjawab pertanyaan para penguji. Penguji pun mengajukan banyak pertanyaan provokatif.

Disertasi Teguh yang berjudul ’’Faktor-Faktor yang Menentukan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik: Kasus Pemerintahan Daerah Kota Surakarta 2005-2014’’, disusun berdasarkan hasil penelitiannya tentang kinerja pemerintahan Solo di bawah kepemimpinan Joko Widodo dan wakilnya, FX Hadi Rudyatmo.

Teguh menyelesaikan program doktoral dalam waktu dua tahun delapan bulan. Dia dinyatakan lulus cumlaude. Meski di depan pintu masuk ruang sidang terpampang tulisan ’’Harap Tenang Ada Ujian’’, suasana penuh gelak tawa di dalam Gedung Pascasarjana Universitas Padjajaran, Jalan Dipati Ukur Bandung, Jumat (21/11), tak terhindarkan. Ruangan yang dipadati sekitar 100 orang itu terasa hangat dan familiar.

Setelah Teguh menyampaikan ringkasan disertasi, satu per satu penguji mengajukan pertanyaan dalam sidang yang dipimpin Direktur Pascasarjana Unpad Prof Dr Mahfud Arifin itu. Penguji pertama, promotor Prof Dr Dede Mariana MSi, langsung mengejutkan forum dengan pertanyaan provokatif. ’’Menurut promovendus, Jokowi itu seorang sosialis, komunis, ataukah sosialis demokrat?

Tidak usah canggung menjawabnya, ini forum ilmiah,’’ kata Dede disambut tawa hadirin. Teguh yang biasa tampil di muka umum tidak tampak grogi. Dosen kelahiran Kebumen, 22 Agustus 1969 itu pun menjawab tanpa ragu. Dia menjelaskan, berdasarkan hasil penelitiannya yang mengandalkan informasi narasumber (informan), Jokowi berhasil dalam memimpin Solo karena menjalankan prinsip kerakyatan. Dalam istilah yang lain, Jokowi disebut sosialis. ’’Menurut saya, Jokowi itu 80 persen sosialis,’’ tegasnya disambut tawa hadirin.

Nguwongke Pertanyaan awal mengenai figur dan karakter kepemimpinan Jokowi memancing pertanyaan senada dari enam penguji lain. Termasuk penguji terakhir Prof Dr HA Kartiwa SH MS. Dia yang mewakili guru besar Unpad bertanya, jika Jokowi seorang sosialis, bagaimana sebagai presiden mengatasi neoliberalisme yang menguasai perekenomian Indonesia saat ini?

Bentuk perekonomian manakah yang cocok untuk Indonesia? Teguh menjawab, karakter Soekarno adalah sosialis. Kini Indonesia membutuhkan sistem perekonomian yang berimbang antara ekonomi pasar dan ekonomi negara. Jokowi sudah memberikan contoh mengatasi neoliberalisme di Solo dengan membatasi izin minimarket untuk melindungi pasar tradisional. Revitalisasi pasar tradisional di Solo telah meningkatkan enam kali lipat pendapatan asli daerah. Selama Jokowi memimpin Solo, seluruh pasar tradisional berhasil direvitalisasi, kecuali Pasar Klewer. Menjawab pertanyaan penguji lainnya, Teguh memaparkan, kunci keberhasilan pemerintahan di Solo adalah karakter kepemimpinan Jokowi yang merakyat, nguwongke, dan inovatif.

Karakter ini dipadukan dengan kemampuan Hadi Rudyatmo dalam mengelola akar rumput dan budaya masyarakat Solo yang guyub serta kritis. Jokowi Kw 1 Dari hasil penelitiannya, Teguh menyimpulkan, ada sejumlah faktor yang menentukan keberhasilan tata kelola pemerintahan. Faktorfaktor itu mencakup kepemimpinan, reformasi kelembagaan termasuk birokrasi, modernisasi sektor publik, masyarakat sipil yang terorganisasi, tradisi dan budaya masyarakat, faktor-faktor informal, dan faktor lain. Ketika ditanya, bisakah sukses Jokowi di Solo diterapkan dalam skala nasional, Teguh menegaskan, bisa replikasi kalau bawahan Jokowi sebagai presiden mampu menerjemahkan visinya. Kelemahan Jokowi di Solo terutama gaya shortcut(potong kompas) yang tidak seirama dengan birokrasi. Misalnya, sejumlah program yang gagal karena bersifat dadakan, sementara regulasi dan anggaran tidak disiapkan lebih dulu.

Puncak ger-geran muncul ketika penguji lain, Dr Rahman Mulyawan MSi, meminta ’’Presiden Jokowi’’maju ke kursi depan. ’’Itu kasihan ’’Presiden Jokowi’’ jangan duduk di belakang, maju ke depan,’’kata Rahman. Hadirin bingung, memang Jokowi hadir? Teguh yang memahami situasi langsung meminta Toto Amanto, kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BPMPT) Solo yang mirip Jokowi, pindah ke kursi tamu terdepan. ’’Nah, ini Pak Toto, kepala BPMPT, Jokowi Kw 1,’’ ujar Teguh memperkenalkan salah satu narasumber penelitiannya itu.

Para tamu pun kembali tergelak, termasuk Wagub Jateng Heru Sudjatmoko dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang duduk di barisan depan. Banyak tamu dari Semarang hadir. Selain wagub dan wali kota, tampak sejumlah dosen Undip kolega Teguh, para penyelenggara dan mantan penyelenggara pemilu, serta beberapa wartawan senior.

Sumber: Suara Merdeka

Add comment


Security code
Refresh

FOTO KEGIATAN

imageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimage

LPPD Research Institute

LPPD Research Institute merupakan Lembaga Pengkajian Pembangunan Daerah yang berada di Jawa Tengah. Researching, Consulting, Training and Publishing. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin sebagai Direktur Eksekutif.

APSIPI

Asosiasi Program Studi Ilmu Pemerintahan Indonesia (APSIPI) dibentuk sebagai hasil dari SIMPOSIUM NASIONAL PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN Se-INDONESIA pada tanggal 23-24 November 2014 di Hotel Narapati Bandung yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Padjadjaran [ more detail ]

Link Terkait

   

 

Artikel Populer

Publikasi Populer

Kontak

Info kontak:

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Kantor: Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Undip