• Font size:
  • Decrease
  • Reset
  • Increase

Ini yang Perlu Dicatat dari Debat Kandidat Calon Bupati dan Wakil Bupati Grobogan

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Grobogan bekerja sama dengan inews tv menyelenggarakan debat kandidat calon Bupati dan Wakil Bupati Grobogan 2015-2020 hari ini, Rabu (25/11/2015). Debat kandidat yang bertempat di Gedung Wisuda Budaya itu berlangsung meriah. Debat ini dimoderatori oleh Teguh Yuwono, pengamat politik dan dosen Universitas Diponegoro Semarang.

Kedua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Grobogan hadir dalam debat tersebut. Mereka adalah Icek Baskoro-Sugeng Prasetyo dengan nomor urut 1 dan Sri Sumarni-Edy Maryono dengan nomor urut 2.

Debat berlangsung meriah ketika memasuki sesi tanya jawab. Sri-Edy mendapat pertanyaan dari moderator tentang bagaimana mengelola pasar tradisional. Sri menjawab, daya saing pasar tradisional harus ditingkatkan. Edy menambahi jawaban Sri. Edy mengatakan bahwa hal itu dapat diwujudkan dengan membangun sarana-prasarana yang memadai yang tidak akan kalah dengan ritel modern.

“Ritel modern diwajibkan mengambil karyawan dari lokal ritel tersebut. Sehingga memberdayakan masyarakat sekitarnya,” kata Edy yang juga mantan anggota DPRD Grobogan ini.

Icek-Sugeng mendapat pertanyaan bagaimanakah kebijakan serta langkah konkret untuk mengembangkan ekonomi pedesaan, KUD, dan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat.

Icek menjawab, potensi yang ada di desa harus dikembangkan karena potensi desa di Grobogan menurutnya sangat besar. Jika hal ini dilakukan, menurutnya, Grobogan tidak akan kalah dengan daerah lain.

“Koperasi akan kita bebaskan dari biaya-biaya perizinan. Yang sudah ada kita kembangkan SDM-nya, pembiayaan, dan permodalan. Kita akan fasilitasi dan tidak boleh ada yang menghambat,” ungkap mantan Wakil Bupati Grobogan ini.

Dalam tema pelayanan masyarakat, Sri-Edy mendapat pertanyaan bagaimana mempercepat pelayanan kepada masyarakat dan apakah setuju dengan one stop services?

“Cukup lama pelayanan satu atap di kabupaten Grobogan. Saat ini program tersebut belum dapat diwujudkan sehingga kekecewaan dirasakan semua rakyat kabupaten Grobogan. Apabila kami diberi amanat, one stop service akan betul-betul kami perhatikan,” ujar Sri yang juga mantan ketua DPRD Grobogan ini.

Edy menambahkan dengan one stop service, biayanya pasti, waktunya juga pasti, dan one stop service ini akan dipajang pada depan kantor SKPD yang bersangkutan. Edy juga akan berusaha untuk mempermudah perizinan-perizinan.

Sedangkan Icek-Sugeng mendapat pertanyaan bagaimana menjaga profesionalitas dan akuntabilitas pemerintahan, apakah setuju dengan open recruitment, dan bagaimana strategi cepat mewujudkan open recruitment tersebut.

Icek sependapat dengan open recruitment. Ia mengatakan bahwa di era keterbukaan selama ini, open recruitment harus diwujudkan. Ia mengklaim pemerintah Kabupaten Grobogan selama ini sudah terbuka dalam hal seleksi jabatan.

“Kami tidak bisa sendiri, oleh karena ini kami akan duduk bersama dengan tokoh masyarakat dan akademisi. Kami akan menentukan syarat-syarat dan kriteria. Bukan titipan pihak tertentu. Syarat terpenuhi dulu baru selanjutnya mekanisme berjalan,” jelas Icek.

Teguh Yuwono membacakan lagi pertanyaan untuk pasangan nomor urut 1, Icek-Sugeng. Ia mengatakan bahwa kondisi infrastruktur Kabupaten Grobogan memprihatinkan. Penyebabnya, sedikitnya anggaran dan lemahnya pemimpin memprioritaskan masalah infrastruktur. Apakah masalah infrastruktur akan bisa anda atasi?

“Panjang jalan di Grobogan 800 km. 42 persen target pembangunan terpenuhi. Sekarang memang belum semuanya. Jalan yang diutamakan adalah jalan trayek dan bus. Yang kedua adalah jalan antar desa, sekarang sudah dipersiapkan,” ujar Icek.

Icek menjelaskan bahwa anggaran pembangunan jalan di Kabupaten Grobogan setiap tahun rata-rata 100-110 M. Di tahun ini, ia mengatakan bahwa anggarannya naik menjadi 160 M. Ia tidak mau jalan yang dibangun dengan seenaknya sendiri. Contohnya baru dibangun 2 bulan sudah rusak.

Pasangan nomor urut 2 Sri-Edy mendapat pertanyaan bagaimana mengatasi masalah disparitas (ketimpangan pembangunan), kekeringan, dan kebanjiran.

Sri Sumarni mengakui selama ini disparitas desa dan kota sangat besar. Hal ini menjadikan desa-desa pelosok sangat tertinggal. Ia berjanji akan mencari solusi untuk masalah ini. Edy mendapat tugas menjelaskan detail dari konsep yang dikatakan Sri.

“Desa membutuhkan langkah-langkah. Represif menanggulangi kekeringan dengan pengadaan kendaraan tangki. Langkah-langkah preventifnya, kita melakukan kegiatan-kegiatan bagaimana kekeringan bisa ditanggulangi. Untuk banjir, BPBD akan disiagakan,” jelas Edy.

Sumber: Harian Grobogan

Add comment


Security code
Refresh

FOTO KEGIATAN

imageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimage

LPPD Research Institute

LPPD Research Institute merupakan Lembaga Pengkajian Pembangunan Daerah yang berada di Jawa Tengah. Researching, Consulting, Training and Publishing. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin sebagai Direktur Eksekutif.

APSIPI

Asosiasi Program Studi Ilmu Pemerintahan Indonesia (APSIPI) dibentuk sebagai hasil dari SIMPOSIUM NASIONAL PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN Se-INDONESIA pada tanggal 23-24 November 2014 di Hotel Narapati Bandung yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Padjadjaran [ more detail ]

Link Terkait

   

 

Artikel Populer

Publikasi Populer

Kontak

Info kontak:

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Kantor: Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Undip